Ketika Banyak Jalan Menuju PTN

Dear Felly, 

Pengen Curcol sedikit nih,,,,boleh ya. 

Mau ngomongin sedikit tentang PTN, karena gemes dengan realitas yang saya temukan di "jalan"

10 tahun lalu masuk PTN sangatlah selektif dan ketat, dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi, terutama pada top 5 PTN besar di negeri ini, ya you knowlah apa aja PTN itu. 

Sekarang banyak sekali jalur menuju kesana, dengan berbagai buatan program universitas. 
untuk anak-anak yang daya juang belajarnya tinggi, saya tidak mengkhawatirkan mereka, karena PTN itu layak didapat dengan daya juang tinggi. 

Bagaimana dengan siswa yang kemampuannya biasa-biasa saja, tapi ngotot masuk negeri dengan gaya belajar mereka yang biasa-biasa saja, (gumam dalam hati, ya mana bisa dapet klo style belajar dan atitudenya saja tidak dijaga). 

Guys yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, teruslah berkarya dengan bidang yang kalian suka, kesuskesan kita bukan ditentukan oleh PTN negeri atau swasta kok. kesuseskan kalian akan ditentukan oleh banyak faktor hardskill dan juga softskill. Ilmu sekarang tersebar dimana-mana kok di era digital sekarang ini, bisa googling apapun yang kalian cari.  

Buat kalian kelas X dan XI, belajarlah selagi guru kalian ikhlas mengaajarkan kalian, terima semua tugas yang diberikan, kerjakan dengan ikhlas tanpa ngedumel apalagi hanya sekedar mengharapkan nilai. 

Patuhilah guru kalian, jangan bermuka masam didepan mereka, tunjukkan kesungguhan kalian, tumbuhkan semangat keingintahuan kalian. Kurangilah K Pop yang tidak membantu kalian dalam mengerjakan soal atau memecahakan masalah kalian. Jika memang K Pop menjadi inspirasi, tirulah bagaimana orang Korea belajar  mati-matian untuk bisa ke PTN dengan standar yang sangat tinggi dan ketat. 

Kehidupan percintaan di drama, tidak terjadi dunia nyata, hidup mereka disana sangat keras dan kompetitif. 

Masih galau, manyun, bete, ogah-ogahan, ketinggalan kereta cuy.... 
yuk ah, hidup tidak hanya berkutat pada sekolah, masih banyak kehidupan di luar sana yang sangat menarik untuk di pelajari. 

Salam inspirasi, 
Sabtu Malam, 
#curhatanguru



PUBLIC ROOMS

entahlah lagi asyik banget nih nuangin isi kepala dalam sebuah bunyi ketikan Keyboard, it's sound like what i feel. 

ok kita bahas tentang ruang publik ya, ini gara-gara murid eike kepengen nulis essay tentang pemanfaatan ruang publik. 


Saturday, 17 september 2016 

Today for the first time I take out my students to Tangcity. Look difrents side from commonly they lived. 

Gue bawa murid ke lokasi sanggar semanggi di daerah Tang city, Tangerang kota. Disana ada kegiatan workshop  art, melukis, mural, sablon, buat robot dll,. Hari ini gue ajak Dyandra dan Shalia, dua murid gue dari jurusan ips, mereka punya semangat yang tinggi untuk mengikuti lomba essay yang diadakan FISIP UI. Ketika mereka berkeinginan  masuk jurusan sosiologi, oh my god gue sangat berseri-seri mendengar cita-cita mereka itu. Ya Allah kabulkanlah doa mereka, gue sangat excited jika ada pengikut dari kelas yang gue ajarkan. 

Mereka ingin buat essay tentang pemanfaatan ruang public  oleh  pemuda, entah kenapa gue langsung tertuju pada kawan gue Jamil,karena dia ada kegiatan  sanggar yang di daerah Tangerang. Katanya sih ada pemanfaatan area public disana. Langsung gue calling Jamil untuk minta ijinnya dia, Alhamdullilah gayung bersambut dan dia menyetujuinya.

Gue agak sedikit kecele sih ketika keinginan gue sedikit terkendala ketika ada statement  dari guru lain yang  bilang “kalo mau ikut lomba yang anaknya memang sudah siap miss,  bagus  dan ada kesempatan untuk menang, kalo nggak mah mendingan jangan diikutin. Whatss why you think like that.  I think we should give appreciate when students have big interest about they want to competition., it's give experience, that’s learn, win or loose no problems. 

Well I have so many idea to develop  something but  the obstacle always to communicate with other people about the idea, cause  not all guys agree with your idea or visions.be as human beings as from your root. Why education have failed to build human as human, they growth up to cover capital, corruptions, is from famous campus, intellectual. 

Hopefully you guys will have chance to next level. Ms eva appreciate about this. is ok, always keep trying.  



SEKOLAH IDEAL





Apa yang terlintas dalam benakmu pengkategorian sekolah ideal ? para orang tua menginginkan anaknya bisa berkembang dengan baik setelah anaknya lulus dari sekolah, tapi apa sejatinya sekolah. Menanamkan perubahan tingkahlaku itu harapan semua orang tua. Semenjak saya lulus dan berharap bisa menjadi  guru PNS, yang ada  dibenak saya  tentang  sekolah ideal adalah sekolah dengan prestasi bagus, fasilitas pendukung serta anak didik yang juga baik. That’s the dream, itu idealnya. Sama halnya seperti Karl Marx punya mimpi masyarakat yang tanpa kelas, masyarakat yang bahagia semua. Mengapa manusia bisa terdoktrinasi dengan mimpinya Marx dan menyebabkan dunia ke dalam dua kubu Kapitaslis dan komunis. Begitu tajamnya pengaruh filsafat sehingga berpengaruh dalam sendi pemikiran dan menciptakan pola perilaku. 


Ok, balik ke sekolah ideal, gue sudah melihat beberapa angle tentang  system dan pelaksanaan sekolah, mulai dari sekolah negeri, sekolah pkbm non formal, sekolah alam, semi alam , sampe ke sekolah sekolah islam. Semuanya sama berlomba-lomba pada proses penilaian angka, karena angka menjadi patokan menilai sesorang. Mau masuk universitas ternama score lagi yang dilihat, it’s about score, dan angka itu tidak akan berubah. 

Saya perlu berdiskusi dengan orang diluar dari dunia pendidikan untuk melihat taste dan feel yang berbeda, yak klo ngomongnya dengan orang pendidikan akan sami mawon  juga yang dinilai adalah rpp, perangkat dsb. Ohg god please find me to meet someone. Firza, jamil dan beberapa orang  dari yayasan sukma yang pernah berdiskusi dengan gue, sebetulnya mereka punya konsep sudut yang bagus tentang hakikat pendidikan. Even saya disekolah islam pun sama kakunya, I’m so scare to make create something, back to the system, ketika sekolah tidak lain menjadi sebuah komoditi komersial, I don’t know  why this happens.  

DIKOTOMI IPA DAN IPS

I'm come back to School.
and i got responsibility as a wali kelas x grade science.

Dulu zamannya saya sekolah penjurusan IPA atau IPS dilakukan pada saat saya beranjak kelas 3/XII (well itu emang lama banget sih sekitar tahun 2001 kali ya, ketahuan deh angkatannya). melihat anak-anak begitu antusias memasuki kelas IPA, ada apa dengan anak-anak di jurusan ini. selang satu bulan belajar sudah mulai terlihat nilai ulangan hariannya, guru mathnya sudah mulai gelisah bak buah yang jatuh dari pohon.
"Ms, ini gimana anak-anakmu nilainya jelek banget, kalo nggak bisa ngikutin di IPA pindah aja lah ke IPS". ujar rekan kerja saya itu.

Ada apa dengan anak-anak ini, apa motivasi dan latar belakang mereka masuk ke IPA, well mengenai hakikat IPA dan IPS saya pun baru menyadari makna filosofisnya pada saat kuliah, ketika belajar filsafat. saya baru menyadari nikmatnya belajar sains itu ketika tahu maknanya. dulu ketika di SMA sains menjadi momok yang sangat menakutkan, karena guru saya tidak menjelaskan makna belajar dengan why you learn about that. 

Jadilah saya anak IPS dengan bermodal kekuatan menghapal, but im  fun with my choice. 
Anak-anak Ms. Grade X Science, jalanilah apa yang membuatmu total belajar mengenai sesuatu. hidup kita bukan ditentukan oleh IPA dan IPS tapi seberapa besar kau bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kau pilih and be your self. 




KORPORASI BIROKRASI DAN LEGISLASI

KORPORASI-BIROKRASI-LEGISLASI

Ada diskusi yang menarik semalam di ILC TV one , 5 April 2016, membahas tentang Reklamasi teluk Jakarta. Orang –orang yang terkait dengan proyek ini beberapa sudah di tetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Saya senang dengan diskusi model ILC TV one yang diperlihatkan adalah kekuatan argumentasi  dari berbagai latar belakang profesi dan lembaga. Disinilah akan terlihat bahwa otak tidak bisa menerima yang namanya kontradiksi, otak juga akan memilah mana yang benar dan salah, karena benar dan salah ada ukurannya, tidak bisa relative. Apalagi diskusi model ILC yang sangat dekat  dengan ranah aturan formal dan baku berupa undang-undang.

Anyway, biarlah proses hukum berjalan, yang menarik dari hasil pengamatan saya  sebagai pribumi dengan wilayah disekitar tempat tinggal saya adalah tentang pengembang property yang sangat jauh dari rasa kemanusiaan. Ada saudara saya yang rumahnya ditutup habis akses jalannya dengan pengembang perumahan raksasa di Jakarta, rumah saudara saya ditutup oleh pagar beton yang tinggi, tanahnya juga lebih tinggi dari rumahnya. Mereka membangun rumah dengan cara ditinggikan tanahnya dari perumahan pribumi sekitar, sehingga kawasan perumahan rakyat kecil ini menjadi banjir akibat tidak adanya lahan resapan air dan susahnya air mengalir

So, ini contoh kecil dari rumah pribumi yang tertutup oleh pengembang besar, bagaimana akan halnya dengan proyek reklamasi ini, laut dijadikan pulau. Saya tak mengerti regulasi hukum yang mengizinkan ini. Yang pasti Air, bumi dan laut adalah milik Allah, betapa  rakusnya manusia mendapatkan keuntungan yang bersifat semu semata ini. Saya yakin mahluk hidup laut ikan dan kawan-kawannya akan menjerit dan curhat langsung sama sang pencipta, mengapa manusia menghancurkan habitatnya, tak cukupkah manusia hidup didarat saja.

Negara seolah tak berdaya menghadapi korporasi besar yang jelas-jelas tidak berpihak pada rakyat kecil, buat apa kita tergabung dalam Negara jika Negara hanya menjadi pengelola bagi sebagian elite. Ketika petani tak lagi punya lahan pertanian, ketika nelayan tak lagi punya pantai, ketika udara berisikan kepulan asap, Akan jadi kota mati baru, ,,,, yg ada sekarang apartemen banyak yg kosong, ruko jualan ruko




Antara Negara, Tanah Negara dan Warga Negara

Mana yang lebih dahulu Negara, tanah negara dan warga negara. 
Akhir-akhir ini banyak sekali pihak yang mengatasnamakan tanah negara, terus warganegara yang tinggal diatas tanah negara mau dikemanakan jika tempat mereka tinggal digusur dan diperuntukkan dengan tujuan lain. Bukankah syarat terbentuknya negara ada tiga unsur yakni ; wilayah, penduduk, dan pengakuan dari negara lain. 

Lantas untuk apa bernegara jika untuk menempati tanah saja tidak diperbolehkan.
terkadang saya berpikir bahwa siapa sesungguhnya sang pemilik tanah, bukankah Tuhan sang pencipta, manusia hanya numpang hidup saja. Manusialah yang membuat aturan-aturan formal sehingga ada penamaan istilah tanah negara, tanah publik, dll. 

lantas ketika kita mati apakah kita akan membawa tanah negara dan  kita dikubur di dalam tanah, karena kita memang berasal dari tanah. Untuk manusia yang masih hidup janganlah kalian serakah akan tanah yang sesungguhnya bukan milik kalian. 

Cukup sekian  renungan pagi ini, karena terlalu banyak orang yang berkoar-koar tentang tanah negara, jadi saya beri judul yang diatas. Selamat beraktifitas. 

Intoleransi terhadap Toleransi

Dunia saat ini tidak lagi dihapkan pada kekuatan Komunis dan Kapitalis, keduanya sudah terbukti gagal dalam menciptakan tatan masyarakat yang ideal. Begitupun para pejuang yang mengatasnamakan HAM dan demokrasi menurut versi meraka yang dipaksaka kedalam kehidupan kita. Tanpa adanya istilah HAM dan demokrasi, Islam sudah mencakup nilai-nilai itu dalam ajarannya. Akhir-akhir ini banyak yang berbicara mewakili Tuhannya dengan mengatakan :


 Tuhanmu tidak perlu disembah karena dia tidak butuh penyembahan 
 Tuhan mu tidak perlu di bela karena dia yang memiliki kebenaran
 Jangan merasa diri paling benar karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan
 Kasihan sekali Tuhanmu yang maha mulia tapi disuruh2 masalah kelamin 
Jangan mudah menghukumi karena hanya tuhan yang tahu kebenarannya



Kita dipaksa untuk memahami dan menerima argumentasi mereka, tapi mereka tidak mau juga memahami orang yang berpegang teguh pada ajaran agama, ini namanya sudah intoleran, tidak ada toleransi apalagi kebebesan mengemukakan pendapat, nilai dianggapnya relatif. Berbahaya sekali virus ideologi ini. Semoga kita masih punya akal sehat dan hidup dalam ridho dan lindungan Allah, ketika memegang keyakinan seperti mengengam bara api, inikah tanda-tanda akhir zaman ? 


-  catatan di pagi hari dengan segelas orange juice -


PUISI KEMALASAN

Aku terjebak dalam zona kenyamanan Liburan

Malas membutakan mata,

Malas menggilas akal sehat.

Tak bisakah kau sedikit Focus untuk persembahan terbaik.

Aku tak sebagus yang ada dipikiran orang lain

Dan memang aku tak sebagus  KAMU atau DIA

Aku ingin kembali bangkit dari masa kemalasanku

Dalam bertarung dengan manusia-manusia

Bukankah hidup adalah pertarungan kawan,

Kau Jangan lupa hukum the survival of fittest, siapa yang kuat dia yang menang

Nyatanya seperti itu.

Songsonglah Matahari pagi,

Dia akan terus bersinar, tanpa kau peduli hidupmu atau tidak

Masih banyak manusia di bumi ini, hanya ada dua pilihan

Lanjutkan hidup atau kau “Pulang” saja

Oksigen masih akan terus berhembus

Air masih terus mengalir

Apalagi yang Kau khawatirkan


Kita memang hidup dalam sistem pergumulan manusia 

Trip To Kebumen



Bismillahirahmanirahim

Destinasi Perjalanan kali ini adalah ke Kebumen, sebetulnya ini adalah perjalanan spontan yang dilakukan dengan memakan waktu persiapan hanya satu bulan saja. Ambil Cuti dua hari untuk refreshing.

Sebetulnya Kebumen adalah wilayah yang tidak disangka menjadi tujuan, seorang teman baik menawarkan tempat ini karena ada  kerabat yang bisa menjadi tour guide kita selama di sana.

Berangkat dari Stasiun Senen, pukul 22.30 menuju stasiun Gombong. Ini pertama kalinya juga gue naik kereta dari Stasiun senen, gile gue kira naik kereta malem-malem penumpangnya sedikit dan nggak banyak, taraaanggg nyampe sana banyak aja orang yang keluar kota, hari weekday aja banyak banget gimana hari weekend coba dan nggak kebayang kalo lebaran.

Perjalanan liburan memang lebih enak jika dilakukan pada hari kerja/weekday, lebih leluasa menikmati suasana.

Ok lanjut perjalanan di dalam kereta, bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan mulai dari orang tua, mahasiswa sampai anak-anak pun ada. Semua orang punya  membawa tujuannya masing-masing di bawa oleh kendaraan yang sama yakni Kereta Api. Naik kereta api sekarang sangat nyaman, semua orang sudah punya kursinya masing-masing tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat duduk, tidak ada lagi penumpang yang gelantungan, berdiri,  apalagi desek-desekan, dan tidak ada pedagang asongan yang bolak-balik masuk. Gambaran situasi kayak gitu kayaknya sekitar 4/5 tahun lalu, yang manajemennya masih kacau banget. Ok gue salut dengan peningkatan pelayanan kereta api yang makin ke sini makin bagus.

Ada satu cerita di dalam kereta, ada situasi gaduh seorang nenek/mbah yang nggak bisa bahasa Indonesia, ngomongnya bahasa Jawa. Sibuk mencari kursi yang ditempatinya karena tidak cocok dengan tiket dipegangnya, sementara yang punya kursi  datang dan sama-sama mengklaim, dengan penuh kesabaran pemuda yang kursinya telah ditempati mengarahkan si Mbah untuk menemukan kursinya.  
Gumam gue dalem hati” aduh tuh nenek-nenek nggak ada yang dampingin apa, cari kursi aja susah banget nggak mau diatur pula, semoga bukan dikursi depan gue”

Doa gue terasa langsung diaminkan oleh Allah.

Ada pemuda baik yang menunjukkan nomer kursinya si nenek yakni tepat di kursi depan gue, oh my god, klo orangnya asyik sih nggak is ok ya, Cuma ini nggak bisa bahasa Indonesia dan rada-rada ngeyel gitu, males juga ngeladeninnya, secara gue juga nggak ngerti juga. Kasihan bapak yang duduk di sebelahnya hanya dapat duduk dengan pantat sebelah saja, selebihnya dikuasai si mbah dengan bawaan tasnya  dan atributnya itu.

Kereta semakin melaju kencang meninggalkan stasiun senen, ngobrol sana-sini panjang lebar dengan widi, makin ngantuk juga, dan you know what, si mbah ngapain, dia keluarkan semua isi tasnya yang terdiri karung dan Koran, dia gelar dong dilorong  dibawah kaki gue, dia sibuk menggelar itu dan yang lebih mengejutkan dia menyiapakan itu untuk tidur di kolong kursi, memang sih bisa tidur memanjang, Cuma dibawah kursi gitu. Ini adalah kejadian unik yang pernah gue temuin sepanjang gue naik kereta. Tapi ada untungnya sih dengan begitu si bapak yang disebelahnya bisa duduk dengan nyaman dan gue berdua bisa selonjoran kaki, lumayan bisa mengurangi pegel sepanjang perjalanan. Terkadang kesal dengan kondisi, ada hikmah yang bisa dipetik. hueeee


Ok gue nggak akan memperpanjang kisah si mbok unik itu, karena kepanjangan ceritain kisahnya, cukup bertemu dengannya saja sudah menjadi bagian cerita dari kisah perjalanan ini.

 Gue tak terlalu mengenal Kebumen, hanya baca saja di Wikipedia dan beberapa teman juga ada yang orang Kebumen, namun untuk tujuan wisata masih kurang pupoler sih. Biarlah yang penting bisa menikmati seninya sebuah perjalanan. So secara kita ini adalah para backpacker yang kantongnya kere tapi kepingin jalan-jalan.

Alhamdulilah kita sampai di stasiun Gombong pukul 05.00,  bisa melaksanakan sholat subuh di stasiun. Setelah sholat kita sudah dijemput oleh kerabat dengan mengendarai motor. Suasana pagi di daerah itu sangat menenangkan udara masih sejuk dan mendapati pemandangan aktivitas penduduk dengan menggunakan sepeda, tidak takut terkena serempetan motor atau mobil, moda transportasi ini masih sangat nyaman digunakan.

Sepanjang jalan menuju desa Banyumundal berharap bisa bertemu dengan hamparan sawah dengan padi yang hijau atau menguning, nyatanya kondisinya berubah  menjadi hamparan pohon kacang tanah, kacang kedele,  dan kacang hijau, rumpun tanaman gogo menjadi pengganti padi dikala musim kemarau.

Terlihat saluran irigasi yang kering tak teraliri air, deretan pohon jati yang berguguran daun , sawah kering yang dibakar menjadi merang, yang siap untuk di cangkul kembali ketika memasuki musim hujan

Sungguh pemandangan yang menangkan jiwa dan mata, karena tak ditemukan di kota besar, I Love desa dah pokoknya. Sampai di rumah kita disambut dengan orang tua kawan gue, mbak kakung dn mbah putri. Sampai di rumah kita diseduhi the hangat yang cukup menghangat kan perut yang kosong ini. Di berikan kamar  dan kita beristirahat sejenak melepaskan lelah.

Tujuan Wisata di Kebumen Kali ini adalah ke
1.   Waduk Sempor
2. Pantai Ayah
3. Pantai mengganti
4. Pantai suwuk
5. Goa jatijajar
6. Benteng Van Der Wijck

Alhamdulilah kunjungan ke tempat wisata tersebut dapat terjamah dalam waktu 3 hari.
So cek this one out,our Pictures

 1. Pantai Menganti 
Tebing Menganti

I feel Free, Hindia Ocean 
Sore Hari di Pantai Suwuk 
Benteng vander Wijck
  

Sudut Kota Medan

Salah satu sudut dijalan Merdeka Walk-Medan
Kawasan Kesawan Medan, merupakan pusat kota tua jaman pemerintahan kolonial Belanda
Masjid Raya Al-Mashun Medan. adalah  Peninggalan Kesultanan Deli , dibangun pada awal abad ke 20

EKSPEDISI SUMATERA PART 1


Aku ingin menceritakan bagaimana petualanganku dimulai. Sejenak  Perjalanan hidup yang ku goreskan melalui ketikan di blog ini. Tuhan telah memberikan kesempatan untuk diriku menapaki tanah sumatera. Jawaban dari segala imajinasi yang membukakan mata dideretan peta Indonesia. Negeri kaya, negeri yang bak berlian mengguntai, negeri yang bernama Indonesia. Salah satu dari mozaik itu adalah Sumatera.

Tak pernah kuduga sebelumnya rangkaian yang kulihat di peta kini menjadi penapakan jelas terasa kaki melangkah. Kesempatan untuk berkunjung ke Medan, Belawan, Padang dan Jambi. Adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku. Rasanya tinggal selangkah lagi aku bisa ke Tanah suci mu. Rasanya tinggal setapak lagi aku melihat luasnya daratanmu diantara benua yang lain. Benua yang menjadi impian semua orang, Eropa dan Australia. Akan ku coba taklukan, 

Bismillahirohmanirohim.
Biarlah orang lain menilaiku norak, kampungan atau apapun itu, aku hanya ingin menuliskan memori yang telah Tuhan berikan, agar kelak dari menjadi ceritaku kepada siapapun yang ingin mendengarnya, karena ini adalah sebuah cerita dari kehidupan.

Bermula  dari Medan - Belawan
Tiba di bandara Polonia Medan sekitar pukul 12.00. langkah pertama yang dilakukan adalah  segera mencari penginapan yang murah.  Ternyata mudah ditemukan di kota ini. Medan tidak terlalu beda dengan Jakarta, sama sumpek dan panasnya. Setelah istrirahat dan memulihkan energi karena perjalanan udara, saatnya untuk mengenal kota ini lebih dekat.

Di sana aku mencoba berjalan mengenal sisi kota mulai dari penduduk, bangunan fisik, kendaraan, semuanya menjadi satu pandangan pertama yang terlihat. Ya budaya memang satu paket dengan manusianya, apa yang dihasilkan itulah produk budayanya, jika yang suka Antropologi pasti tak asing dengan adanya unsur Budaya, Antropolog kenamaan Indonesia yakni Prof Koentjaraningrat membagi unsur budaya menjadi tujuh unsur yakni; religi, sistem ekonomi atau mata pencaharian, sistem kekerabatan, sistem bahasa,sistem kesenian, sistem pengetahuan, sistem peralatan. 

Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan Sejarah, melihat dari sisi historis menjadi sangat menarik, karena itu  adalah yang paling aku suka jika berplesiran ke suatu daerah. Biasalah doktrin anak sejarah yang ditanamkan adalah bahwa masa kini erat dengan masa lalu menjadi begitu mengikat di memori otak ini.

========================================================================

Ok kita start dari pengamatan pertama adalah kendaraan khas Medan yakni Bentor dan Sodoku. Bentor adalah Becak Motor, kendaraan ini sebetulnya pernah dilarang, namun ramai kembali karena banyak diprotes oleh ratusan penarik yang menggantungkan hidupnya pada kendaraan ini. Pengemudi Bentor ini secara etika berkendaraan tak kalah jauh dengan pengemudi bajai di Jakarta, kurang disiplin, tidak taat peraturan dan kadang suka punya aturan sendiri jika ingin belok atau berhenti, padahal jelas terpasang dilarang belok atau bukan belokan tapi dia tetap belok.

Pengamatan yang nampaknya sama dengan para pengendara motor atau bajai di Jakarta, yang kadang tidak tahu aturan  atau melupakan etika berkendaraan. Padahal sudah sering Polisi lalu lintas mempunyai moto, tertiblah berlalu lintas utamakan keselamatan sebagai kebutuhan anda.

Dari bentor kita beralih ke SODOKU, adalah mobil angkot tua yang pertama ada di kota medan, angkot ini sudah ada sejak tahun 65 atau tahun 70 an. Tapi sampai sekarang masih sama saja bentuknya, tak mengerti bagaimana pemerintah melakukan peremajaan pada angkot ini yang semestinya sudah dilarang untuk beroperasi. Ah, satu lagi yang tak mungkin aku lupakan dari angkot yang ada di kota Medan ini adalah mereka tak memiliki stiker jurusan atau tujuan, Cuma ada nomer, tapi tak jelas jurusannya apa. Jadi jika ada yang berkujung ke Medan naik angkot harus tanya dulu jurusannya apa, karena tak ada pentunujuk sama sekali mau ke arah mana. Seangker-angker angkot di Jakarta, tetapi masih terpampang stiker tujuan atau rute yang dilewati.

Pemahaman secara historis coba aku jajakan sebagai langkah awal mengenal kota ini. Di medan aku berjalan ke Masjid raya Medan, waktu menjelang magrib sekalian aku mencoba untuk shalat di sana, memasuki ruang dalam masjid, sangat tampak arsitektur antar budaya terlihat, ada akultuasi budaya yang tercermin dari Masjid yang dibangun pada masa pemerintahan   sultanan  Deli ini, ada unsur timur tengah, dan Eropa,

Tak jauh dari masjid raya Medan percis di sampingnya kita dapat melihat Istana maimun, yakni istana kesultanan Deli, yang mnejadi lambang dari kota Medan. Dalam sejarah kesultanan Islam, para Sultan memang membangun Masjid  dekat dengan Istana, di beberapa kesultanan di Indonesia bahkan menjadi sebuah alun-alun kota, sebagai pintu gerbang antara istana dan rakyatnya. Contonya ya tak kalah jauh ykani kesultanan Yogyakarta yang dekat dengan Masjid Kauman. Sayang karena aku berkunjung pada malam hari jadi tak sempat untuk melihat isi dalamnya. Mau foto pun tak sempat, karena di Medan sedang ada pemadaman listrik besar-besaran.

Setelah  menunaikan sholat magrib, langkah kaki ini berjalan menuju Merdeka Walk, keinginan menuju  jalan ini sesering di rekomendasikan orang jika berkunjung ke Medan coba berkunjung ke Merdeka walk, karena di sana merupakan tempat tongkrongan yang asyik dan tempat anak gaul medan. Sebetulnya bukan tempat nongkrongnya sih, yang menjadi pusat perhatianku, tapi sisi historis yang begitu kental, sepanjang jalan banyak gedung tua dan yang menjadi ikonnya adalah gedung bank Indonesia yang dulunya bernama de javaseche bank, sebelahnya gedung pemerintahan, di seberangnya ada kantor pos tertua. Mengingatkan seperti halnya wilayah kota tua di Jakarta... karena juga berdekatan dengan stasiun  kereta api medan. Lagi-lagi  peninggalan Belanda yang mengantarkan mobilitas penduduk medan keberbagai penjuru wilayah Sumatera, seperti Deli serdang, Serdang bedagai, dll. Sebuah konsep kota khas Belanda.  

Selama berada di Medan  aku ditemani  dengan seorang kenalan baru bernama bang Anwar, anak jakarta yang hijrah ke medan, wahhh dia adalah guide yang baik banget karena mengenalkan sisi kota sama orang yang baru macam diriku ini. Dia baru di Medan namun sangat mengenai medan sangat baik, dia tahu pelosok kota lengkap dengan keunikan dan ikon wilayah yang menjadi tujuan berbagai wisata. Di sela kesibukannnya dia aktif menjadi guide para siswa atau mahasiswa yang ingin berwisata kota tua, kemapuan wawasan sejarahnya lumayan mumpuni, cocoklah walaupun backgroundnya bukan sarjana sejarah.

Terpikirkan untuk Anwar bisa mengembangkannya, mengingat di Medan belum ada komunitas yang sejenis, hanya saja sayang anwar belum memanfaatkan media sosial untuk dia mempromosikan programnya. Melalui Blog ini aku coba tawarkan kepada siapa pun yang ingin wisata sejarah Bung Anwar temanku yang satu ini bisa di jadikan referensi. Maju terus bung Anwar.

Puas berkeliling kota medan perjalanan dilanjutkan kearah utara Medan yakni Medan Belawan, sebuah wilayah pesisir dan pelabuhan utama dari Provinsi Sumatera Utara. Lokasi ini mirip dengan wilayah cilincing, Muara karang dan penjaringan Jakarta Utara. Akses kesana sangat mudah karena ada jalan tol sebagai penghubungnya. Jarang aja gitu menemukan tol di Sumatera, ternyata bisa ditemukan di sini. Namanya juga kota pelabuhan banyak sekali truk muatan macam container dan truk besar yang berseliweran sepanjang jalan.

Cuaca saat berada di sana mencapai 40 derajat C, sangat panas sekali, ditambah dengan kondisi jalan yang berdebu. Wilayah ini adalah tujuan utama dari tugas pekerjaan yang diamanatkan dari jakarta. Memasuki perkampungan nelayan yang merupakan wilayah dengan kategori kantong kemiskinan. Nelayan kita pada umumnya sangat jauh dari kata sejahtera, ini seperti rantai kemiskinan yang dialami seklumit penduduk Indonesia. Laut berlimpah, tapi nelayannya miskin dan berada dalam rantai kemiskinan yang sulit di putuskan.

Nelayan di pelabuhan ini rata-rata tidak memiliki kapal sendiri, mereka menyewa dari sang empunya kapal atau para bandar yang menawarkannya kepada nelayan. Perjuangan hidup tak hanya berhenti sampai di situ setelah mereka melaut berhari-hari, jika sedang tak beruntung kadang tak dapat hasil tangkapan karena angin dan gelombang yang tinggi. Bahkan tak hanya faktor cuaca kejahatan kriminal pun kadang mendera, kerap kali hasil tangkapan mereka di ambil paksa oleh perompak bersenjata, apalah daya mereka tak punya kekuatan untuk melawan para perompak ini.

Sementara para kaum laki-laki menjadi nelayan, para kaum ibunya menjadi kuli pengasinan ikan. Upah yang diterima antara Rp. 3000/ hari atau tergantung jenis pernimtaan pekerjaan yang dilakukan.

Perkampungan wilayah ini sangat dipenuhi dengan banyak masalah sosial, sanitasi yang tidak memadai, jika orang yang  tak biasa datang kesana, maka bisa terkena virus typus, masalah sosial seperti kriminalitas juga tinggi, dan konflik komunal pun kerap kali terjadi. Perselisihan dipicu dari perebutan lahan kuburan, lahan parkir,

Namun tak semua wilayah Belawan seperti itu, yang tadi aku ceritakan hanyalah sepenggal dari kampung yang aku lewati. Sebagai kota pelabuhan, transportasi kereta api ternyata tersedia di wilayah ini, lagi-lagi peninggalan Belanda masih dirasakan manfaatnya. Umumnya kereta yang  tersedia adalah kereta pengangkut barang.

Demikianlah kunjungan ke Medan kali ini aku ceritakan, belum banyak yang bisa di eksplore dari kota ini, karena kunjungan tugas yang singkat menyebabkan untuk segera bergegas meninggalkan hiruk pikuk kota ini. Berharap masih ada umur dan kesempatan untuk menapaki kota Brastagi, dan danau Toba. Keindahan  Alam ciptaan Tuhan yang wajib di kunjungi jika berkunjung ke wilayah Sumatera Utara.
Thanks to Edu naek sihombing dan Anwar
One day jika ke Medan, kita ngumpul di merdeka walk ya. 




TRIP TO MALANG-BROMO

Last year in 2019, I was going to  Malang and Bromo with my BFF @pajarwati.  we visit some places in Malang like legendary food untill old ...