PUBLIC ROOMS

entahlah lagi asyik banget nih nuangin isi kepala dalam sebuah bunyi ketikan Keyboard, it's sound like what i feel. 

ok kita bahas tentang ruang publik ya, ini gara-gara murid eike kepengen nulis essay tentang pemanfaatan ruang publik. 


Saturday, 17 september 2016 

Today for the first time I take out my students to Tangcity. Look difrents side from commonly they lived. 

Gue bawa murid ke lokasi sanggar semanggi di daerah Tang city, Tangerang kota. Disana ada kegiatan workshop  art, melukis, mural, sablon, buat robot dll,. Hari ini gue ajak Dyandra dan Shalia, dua murid gue dari jurusan ips, mereka punya semangat yang tinggi untuk mengikuti lomba essay yang diadakan FISIP UI. Ketika mereka berkeinginan  masuk jurusan sosiologi, oh my god gue sangat berseri-seri mendengar cita-cita mereka itu. Ya Allah kabulkanlah doa mereka, gue sangat excited jika ada pengikut dari kelas yang gue ajarkan. 

Mereka ingin buat essay tentang pemanfaatan ruang public  oleh  pemuda, entah kenapa gue langsung tertuju pada kawan gue Jamil,karena dia ada kegiatan  sanggar yang di daerah Tangerang. Katanya sih ada pemanfaatan area public disana. Langsung gue calling Jamil untuk minta ijinnya dia, Alhamdullilah gayung bersambut dan dia menyetujuinya.

Gue agak sedikit kecele sih ketika keinginan gue sedikit terkendala ketika ada statement  dari guru lain yang  bilang “kalo mau ikut lomba yang anaknya memang sudah siap miss,  bagus  dan ada kesempatan untuk menang, kalo nggak mah mendingan jangan diikutin. Whatss why you think like that.  I think we should give appreciate when students have big interest about they want to competition., it's give experience, that’s learn, win or loose no problems. 

Well I have so many idea to develop  something but  the obstacle always to communicate with other people about the idea, cause  not all guys agree with your idea or visions.be as human beings as from your root. Why education have failed to build human as human, they growth up to cover capital, corruptions, is from famous campus, intellectual. 

Hopefully you guys will have chance to next level. Ms eva appreciate about this. is ok, always keep trying.  



SEKOLAH IDEAL





Apa yang terlintas dalam benakmu pengkategorian sekolah ideal ? para orang tua menginginkan anaknya bisa berkembang dengan baik setelah anaknya lulus dari sekolah, tapi apa sejatinya sekolah. Menanamkan perubahan tingkahlaku itu harapan semua orang tua. Semenjak saya lulus dan berharap bisa menjadi  guru PNS, yang ada  dibenak saya  tentang  sekolah ideal adalah sekolah dengan prestasi bagus, fasilitas pendukung serta anak didik yang juga baik. That’s the dream, itu idealnya. Sama halnya seperti Karl Marx punya mimpi masyarakat yang tanpa kelas, masyarakat yang bahagia semua. Mengapa manusia bisa terdoktrinasi dengan mimpinya Marx dan menyebabkan dunia ke dalam dua kubu Kapitaslis dan komunis. Begitu tajamnya pengaruh filsafat sehingga berpengaruh dalam sendi pemikiran dan menciptakan pola perilaku. 


Ok, balik ke sekolah ideal, gue sudah melihat beberapa angle tentang  system dan pelaksanaan sekolah, mulai dari sekolah negeri, sekolah pkbm non formal, sekolah alam, semi alam , sampe ke sekolah sekolah islam. Semuanya sama berlomba-lomba pada proses penilaian angka, karena angka menjadi patokan menilai sesorang. Mau masuk universitas ternama score lagi yang dilihat, it’s about score, dan angka itu tidak akan berubah. 

Saya perlu berdiskusi dengan orang diluar dari dunia pendidikan untuk melihat taste dan feel yang berbeda, yak klo ngomongnya dengan orang pendidikan akan sami mawon  juga yang dinilai adalah rpp, perangkat dsb. Ohg god please find me to meet someone. Firza, jamil dan beberapa orang  dari yayasan sukma yang pernah berdiskusi dengan gue, sebetulnya mereka punya konsep sudut yang bagus tentang hakikat pendidikan. Even saya disekolah islam pun sama kakunya, I’m so scare to make create something, back to the system, ketika sekolah tidak lain menjadi sebuah komoditi komersial, I don’t know  why this happens.  

DIKOTOMI IPA DAN IPS

I'm come back to School.
and i got responsibility as a wali kelas x grade science.

Dulu zamannya saya sekolah penjurusan IPA atau IPS dilakukan pada saat saya beranjak kelas 3/XII (well itu emang lama banget sih sekitar tahun 2001 kali ya, ketahuan deh angkatannya). melihat anak-anak begitu antusias memasuki kelas IPA, ada apa dengan anak-anak di jurusan ini. selang satu bulan belajar sudah mulai terlihat nilai ulangan hariannya, guru mathnya sudah mulai gelisah bak buah yang jatuh dari pohon.
"Ms, ini gimana anak-anakmu nilainya jelek banget, kalo nggak bisa ngikutin di IPA pindah aja lah ke IPS". ujar rekan kerja saya itu.

Ada apa dengan anak-anak ini, apa motivasi dan latar belakang mereka masuk ke IPA, well mengenai hakikat IPA dan IPS saya pun baru menyadari makna filosofisnya pada saat kuliah, ketika belajar filsafat. saya baru menyadari nikmatnya belajar sains itu ketika tahu maknanya. dulu ketika di SMA sains menjadi momok yang sangat menakutkan, karena guru saya tidak menjelaskan makna belajar dengan why you learn about that. 

Jadilah saya anak IPS dengan bermodal kekuatan menghapal, but im  fun with my choice. 
Anak-anak Ms. Grade X Science, jalanilah apa yang membuatmu total belajar mengenai sesuatu. hidup kita bukan ditentukan oleh IPA dan IPS tapi seberapa besar kau bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kau pilih and be your self. 




KORPORASI BIROKRASI DAN LEGISLASI

KORPORASI-BIROKRASI-LEGISLASI

Ada diskusi yang menarik semalam di ILC TV one , 5 April 2016, membahas tentang Reklamasi teluk Jakarta. Orang –orang yang terkait dengan proyek ini beberapa sudah di tetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Saya senang dengan diskusi model ILC TV one yang diperlihatkan adalah kekuatan argumentasi  dari berbagai latar belakang profesi dan lembaga. Disinilah akan terlihat bahwa otak tidak bisa menerima yang namanya kontradiksi, otak juga akan memilah mana yang benar dan salah, karena benar dan salah ada ukurannya, tidak bisa relative. Apalagi diskusi model ILC yang sangat dekat  dengan ranah aturan formal dan baku berupa undang-undang.

Anyway, biarlah proses hukum berjalan, yang menarik dari hasil pengamatan saya  sebagai pribumi dengan wilayah disekitar tempat tinggal saya adalah tentang pengembang property yang sangat jauh dari rasa kemanusiaan. Ada saudara saya yang rumahnya ditutup habis akses jalannya dengan pengembang perumahan raksasa di Jakarta, rumah saudara saya ditutup oleh pagar beton yang tinggi, tanahnya juga lebih tinggi dari rumahnya. Mereka membangun rumah dengan cara ditinggikan tanahnya dari perumahan pribumi sekitar, sehingga kawasan perumahan rakyat kecil ini menjadi banjir akibat tidak adanya lahan resapan air dan susahnya air mengalir

So, ini contoh kecil dari rumah pribumi yang tertutup oleh pengembang besar, bagaimana akan halnya dengan proyek reklamasi ini, laut dijadikan pulau. Saya tak mengerti regulasi hukum yang mengizinkan ini. Yang pasti Air, bumi dan laut adalah milik Allah, betapa  rakusnya manusia mendapatkan keuntungan yang bersifat semu semata ini. Saya yakin mahluk hidup laut ikan dan kawan-kawannya akan menjerit dan curhat langsung sama sang pencipta, mengapa manusia menghancurkan habitatnya, tak cukupkah manusia hidup didarat saja.

Negara seolah tak berdaya menghadapi korporasi besar yang jelas-jelas tidak berpihak pada rakyat kecil, buat apa kita tergabung dalam Negara jika Negara hanya menjadi pengelola bagi sebagian elite. Ketika petani tak lagi punya lahan pertanian, ketika nelayan tak lagi punya pantai, ketika udara berisikan kepulan asap, Akan jadi kota mati baru, ,,,, yg ada sekarang apartemen banyak yg kosong, ruko jualan ruko




Antara Negara, Tanah Negara dan Warga Negara

Mana yang lebih dahulu Negara, tanah negara dan warga negara. 
Akhir-akhir ini banyak sekali pihak yang mengatasnamakan tanah negara, terus warganegara yang tinggal diatas tanah negara mau dikemanakan jika tempat mereka tinggal digusur dan diperuntukkan dengan tujuan lain. Bukankah syarat terbentuknya negara ada tiga unsur yakni ; wilayah, penduduk, dan pengakuan dari negara lain. 

Lantas untuk apa bernegara jika untuk menempati tanah saja tidak diperbolehkan.
terkadang saya berpikir bahwa siapa sesungguhnya sang pemilik tanah, bukankah Tuhan sang pencipta, manusia hanya numpang hidup saja. Manusialah yang membuat aturan-aturan formal sehingga ada penamaan istilah tanah negara, tanah publik, dll. 

lantas ketika kita mati apakah kita akan membawa tanah negara dan  kita dikubur di dalam tanah, karena kita memang berasal dari tanah. Untuk manusia yang masih hidup janganlah kalian serakah akan tanah yang sesungguhnya bukan milik kalian. 

Cukup sekian  renungan pagi ini, karena terlalu banyak orang yang berkoar-koar tentang tanah negara, jadi saya beri judul yang diatas. Selamat beraktifitas. 

Intoleransi terhadap Toleransi

Dunia saat ini tidak lagi dihapkan pada kekuatan Komunis dan Kapitalis, keduanya sudah terbukti gagal dalam menciptakan tatan masyarakat yang ideal. Begitupun para pejuang yang mengatasnamakan HAM dan demokrasi menurut versi meraka yang dipaksaka kedalam kehidupan kita. Tanpa adanya istilah HAM dan demokrasi, Islam sudah mencakup nilai-nilai itu dalam ajarannya. Akhir-akhir ini banyak yang berbicara mewakili Tuhannya dengan mengatakan :


 Tuhanmu tidak perlu disembah karena dia tidak butuh penyembahan 
 Tuhan mu tidak perlu di bela karena dia yang memiliki kebenaran
 Jangan merasa diri paling benar karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan
 Kasihan sekali Tuhanmu yang maha mulia tapi disuruh2 masalah kelamin 
Jangan mudah menghukumi karena hanya tuhan yang tahu kebenarannya



Kita dipaksa untuk memahami dan menerima argumentasi mereka, tapi mereka tidak mau juga memahami orang yang berpegang teguh pada ajaran agama, ini namanya sudah intoleran, tidak ada toleransi apalagi kebebesan mengemukakan pendapat, nilai dianggapnya relatif. Berbahaya sekali virus ideologi ini. Semoga kita masih punya akal sehat dan hidup dalam ridho dan lindungan Allah, ketika memegang keyakinan seperti mengengam bara api, inikah tanda-tanda akhir zaman ? 


-  catatan di pagi hari dengan segelas orange juice -


PUISI KEMALASAN

Aku terjebak dalam zona kenyamanan Liburan

Malas membutakan mata,

Malas menggilas akal sehat.

Tak bisakah kau sedikit Focus untuk persembahan terbaik.

Aku tak sebagus yang ada dipikiran orang lain

Dan memang aku tak sebagus  KAMU atau DIA

Aku ingin kembali bangkit dari masa kemalasanku

Dalam bertarung dengan manusia-manusia

Bukankah hidup adalah pertarungan kawan,

Kau Jangan lupa hukum the survival of fittest, siapa yang kuat dia yang menang

Nyatanya seperti itu.

Songsonglah Matahari pagi,

Dia akan terus bersinar, tanpa kau peduli hidupmu atau tidak

Masih banyak manusia di bumi ini, hanya ada dua pilihan

Lanjutkan hidup atau kau “Pulang” saja

Oksigen masih akan terus berhembus

Air masih terus mengalir

Apalagi yang Kau khawatirkan


Kita memang hidup dalam sistem pergumulan manusia 

TRIP TO MALANG-BROMO

Last year in 2019, I was going to  Malang and Bromo with my BFF @pajarwati.  we visit some places in Malang like legendary food untill old ...