Catatan dan Pengamatan Kehidupan. Menjelaskan yang tidak bisa dijelaskan secara lisan. Kehidupan yang terus bergerak dan akan tiba pada satu titik dimana semuanya akan berhenti. Setiap dari kita akan memiliki batas waktu. Twitte & Ig : @djidiaastuty
99 Cahaya di Langit Eropa
DANAU SRENGSENG
TAHU GIMAL GEMBEL
'Segala persiapan pun dilakukan guna menyambut hari petualangan bedebrett. pesen tiket bus Rosalia Indah, Gile mahal bener nih bus, Untuk yang berdompet tipis sebaiknya menggunakan jasa angkutan Kereta Api, lebih murah dan lebih cepat. Tapi ya nggak senyaman bus Rosalia, busnya tuh enak, nyaman deh pokoknya. Di bus gue sebangku dengan seorang Ibu. Gue nggak tanya namanya siapa, tapi percakapan mengalir begitu saja, cerita pengalaman kerja dan pengalaman hidup tentunya. Setu sih. untungnya gue sebangku yang masih satu kaum sama gue. Males aja gitu kalo sebangku sama kaum adam, ya kalo cakep dan muda sih is ok ya, tapi kalo pria-pria yang agak menyeramkan ngeri juga ya.
Loh terus tentang tahu gimbalnya mana, bentar ya sebelum makan tahu gimbal, gue kasih tahu tempat ibadah umat konghucu terbesar di semarang, yaitu klenteng Sam Po kong. Kleneteng yang dibangun oleh laksamana Ceng Ho dalam pendaratannya di Semarang.
PO 2P
Mengenal Siswa Lewat Tulisan
Curhatnya Anak-anak kenapa tidak mengerjakan PR,
Gue mulai membiasakan siswa itu menulis untuk menceritakan apa yang mereka rasakan.
Ada satu siswa yang menurut gue dia begitu luwes mengungkapkan isi hatinya. Namanya Rifan Nafi, dari kelas PC 1 –B ( setara SMA kelas 1), dia tergolong siswa baru di kelasnya.
Gue ingin tahu kenapa anak-anak tidak mengerjakan tugas. Mereka gue perintahkan menulis alasan tidak mengerjakan PR di kertas folio bergaris sebanyak 1 halaman. Mau Tahu ceritanya seperti apa, simak baik-baik ya ceritanya.
Alasan saya tidak mengerjakan tugas sejarah adalah saya tidak tahu dimana tempat tinggal orang yang harus diwawancarai, dan hampir tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas tersebut. Setelah pulang sekolah saya sejenak tidur siang, setelah bangun saya membantu bapak saya menyiapkan dan merapihkan gerobak untuk berdagang. Saya membantu menaruh apa yang dibutuhkan untuk bubur ayam. Dan kayaknya disekitar saya tidak ada orang yang mengetahui sejarah tempat tinggal yang saya tempati skarang ini.
Pikiran saya juga tidak ditujukan pada tugass itu saja, ada banyak lagi tugas yang harus saya kerjakan lagi, mulai dari PR Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dll. Saya juga disibukkan dengan pelajaran TIK. Saya belum terlalu bisa mengoperasikan komputer dengan baik dan benar saya terlalu banyak pikiran, jadi maaf kalau saya tidak mengerjakan tugass sejarah yang harus dikumpulkan dengan cara mengirim e-mail. Saya juga masih baru, semenjak saya meninggalkan kampung halaman saya, berat rasanaya meninggalkan kampung halaman saya, karena harus meninggalkan keluarga, adik, ibu dan sohib. Sebenarnya saya ingin bersekolah di kampung saja, yang masih satu kabupaten. Namun apalah daya, mungkin ini takdir tuhan dan saya harus jalani semua ini dengan ikhlas. Dan Alhamdulilah disini saya mendapatkan sekolah yang cukup bagus. Fasilitasnya lumayan lengkap dan Alhamdulilah biayanya tidak terlalu mahal.
Selain banyak pikiran saya juga harus mencuci pakaian bapak dan kakak ipar saya. Jadi waktu yang seharusnya untuk membaca buku, saya gunakan untuk mencuci baju. Jujur saja sebelum saya pindah ke sini saya hanya mencuci pakaian saya sendiri, sekarang saya hars mencuci pakaian dengan jumlah yang lumayan banyak.
Akhir kata saya kelupaaan, maaf ya bu
Ya itu tadi curhatannya, meskipun susunan bahasanya belum tertata rapih dan baku, tapi dis sudah mengungkapkannya melalui sebuah tulisan.
Walaupun dari penuturannya dia banyak pikiran atau masalah, tapi yang namanya tugas tetap menjadi tanggung jawab yang harus dikerjakan
Buku Menjadi Guru Untuk Muridku
KETIKA SEMANGAT PEDAGOGIK MEMUDAR
TANAH BETAWI MERUYA
Ok, kita mulai menulisnya,
Is all About Meruya.
Sejak kecil gue tinggal di wilayah Meruya, yang merupakan perbatasan antara Propinsi Jakarta dan propinsi Banten, lebih tepatnya berbatasan langsung dengan Tangerang. Karena wilayahnya dipinggiran Kota, masih banyak tanah yang dan lingkungan yang masih assri, tidak sepadat di wilayah pusat kota yang padat dan kumuh.
Sebagai orang meruya gue sangat bangga dengan kondisi lingkungan yang masih banyak pohon, air tanahnya jernih, rumah penduduk tertata rapih. Itulah enaknya tinggal di Meruya. Nama Jalan dan wilayah kampungnya juga lucu-lucu, ada jalur 20, lapangan kiamat, jalur 15, penggilingan, kembang kerep, kubur batu, H. Lebar, cayon, ya masih banyak sederet nama-nama haji yag dijadikan jalan. Nama-nama tersebut berasalah dari tokoh yang sudah meninggal dan pernah mengalami masa kejayaan, entah sebagai Mandor atau tokoh agama.
Kenapa gue bangga sama meruya, selain yang gue sebutkan di atas, Tinggal di pusat kota jakarta itu sangat tidak menyenangkan. Padat, kumuh, sumpek, hampa udara. Pengalaman tersebut gue bandingkan karena gue lumayan sering turun ke masyarakat. Apalagi pemukiman padat penduduk, beuh nggak banget deh, depan rumah ada yang dijadiin tempat nyuci baju, yang airnya mengalir becek kedepan rumah tetangga. Belum lagi sampah yang menumpuk di pintu air. Pokoknya sangat jauh dikatakan layak, terutama ditinjau dari segi sanitasi.
Ya, kalo kita orang kaya sih enak ada pilihan Apartemen atau Hotel berbintang. Cuma siapa yang bisa mengakses ke situ, perbandingannya mungkin 20: 80 dari jumlah warga Jakarta.
Nah disini gue bukan mengupas kesemrautan kota Jakarta yang emang sudah dari sononya susah banget untuk di bentuk kembali kejayaaan Belandanya.
Gue akan mengajak ke wilayah pemukiman Betawi tepatnya kampung cayon. Kemarin gue baru aja keliling naik sepeda dan disana ternyata ada pemukiman yang belum pernah gue datengin, tapi denger namanya sih sering. Sumpah tuh kampung rapih, dengan tipekal rumah betawi nya. Asri karena masih banyak yang usahanya dari tanaman hias. Macam-macam tanaman hiasa dapat ditemukan.
Berbicara mengenai tanaman hias, sekarang sudah mulai sedikit demi sedikit tergusur dari orang yang punya lahan, karena yang punya tanah ingin membangunnya dengan rumah. Orang betawi tahu sendiri kan tanahnya abis di jual, sehingga tidak punya lahan, yang ada lahan garapan dari tanah orang lain, kemampuannya adalah bertani. Orang dulu bercocok tanam menanam padi, sayuran, sekarang karena sawah sudah tidak ada, beralih kepada tanama hias atau sayur mayur seperti Kankung, bayem. Gue menceritakan ini karena keluarga gue mengalami hal seperti itu, tidak punya tanah untuk usaha pertanian, dan digusur karena yang punya tanah ingin memakai kembali hak mereka. Karena kehilangan tanah garapan, maka sumber penghasilan pun tertututp, jadilah pengangguran bertambah. Ini yang gue amati dari kampung meruya, pada kemana ya orang –orang yang tanah garapannya sudah tidak ada lagi. Pada jadi apa ya? Darimana mereka mengantungkan hidup.
Itulah Betawi dengan kejayaan lalunya, yang kini mulai pudar identitasnya, baik kultur maupun tanahnya. Banyak orang Betawi pergi haji, sekarang yang punya lahan, jika tidak mau capek ya buka kontrakan. Rumah kecil yang disewakan kepada kaum pendatang untuk menjadi tinggal semi permanen dari tempat tinggal mereka kerja. Mungkin para orang tua dulu tidak pernah terpikir tanahnya sekarang sudah tersingkir dan perkembangan penduduk semakin banyak.
TRIP TO MALANG-BROMO
Last year in 2019, I was going to Malang and Bromo with my BFF @pajarwati. we visit some places in Malang like legendary food untill old ...
-
Gg. H. Bejon dan Jl.H. Brit Entah kenapa kali ini gue ingin nulis tentang riwayat nama jalan dan nama gang di daerah gue. Kali ini ilmu pene...








