99 Cahaya di Langit Eropa




99 Cahaya di Langit Eropa
Perjalanan menapak Jejak Islam di Eropa
By: Hanum Rais dan Rangga Almahendra

Sebelum gue menjabarkan tentang isi buku ini, gue mau memberikan apreasiasi dulu kepada kedua penulis. Sumpah ya bukunya Keren bangedddd, seperti keliling Eropa. Ya kayaknya sih pujian gue nggak berlebihan, masih ada komen-komen yang lebih berbobot dari tokoh-tokoh terkenal yang memberikan testimonynya mulai dari BJ. Habibie, Amin Rais ( ya pastinya lah ya, sang ayahanda), Anis Baswedan, Azyumardi Azra, Nazwa Shihab, sampe pelawak Eko Patrio ikutan memberikan kesaksiannya atas buku ini.

Jujur gue tahu buku ini, nggak sengaja mencet remote control chanel TVRI. Kebetulan waktu itu  jam 4  sore acaranya. Nama acaranya gue lupa, yang jelas waktu itu ada Hanum Rais dan suaminya Rangga Almahendra. Mereka menuturkan pemaparan tentang pengalamanya yang begitu sangat enak didengar  dan didiskusikan. Dari situ gue bertekad membeli buku tersebut.

Ternyata nggak sia-sia, sumpah nih buku nambah wawasan gue banget tentang sejarah Eropa dan kejayaan Islam di Eropa. Buku setebal 410 halaman, sangat nikmat dibaca sambil menikamati secangkir capucino di sore hari, atau di malam hari setelah sholat tahajud. Ya, kapan pun itu  butuh mood yang bagus untuk menikmati buku ini.

Cerita tentang pengalaman tinggal di benua Eropa. Pengalaman yang dicritakan disini jauh dari pengalaman orang kebanyakan yang beriwisata ketempat tujuan yang paling banyak dikunjungi oleh seantero orang dari penjuru dunia.  Nah ini dia yang membedakannya, sudut pandang yang dipakai adalah napak tilas sejarah yang berkaitan dengan islam.

Pengalamannya sebagai reporter tv, nampaknya sangat membantu membuat penulisan yang enak dibaca, gaya penulisannya ringan dan santai tetapi sarat muatan pengetahuan.
Selama ini gue belajar sejarah Eropa, tetapi baru kali ini gue mendapat visualisasi yang lain dari Eropa, ya Eropa bukan hanya sebatas negara-negara maju dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuannya, tetapi, sisi lain dari Eropa yang selama ini gue belum  tahu.

Karena banyaknya komen-komen yang diberikan buku ini, ada baiknya jika mau membaca silahkan datang ke toko buku setempat. Silahkan membaca langsung buku ini, anda akan menemukan kekaguman seperti apa yang Hanum Rais tuturkan tentang Eropa, Oh satu hal lagi di buku ini juga menjadi semacam perjalanan spiritualnya penulis, sehingga amat sangat apik dibawakannya.



DANAU SRENGSENG


Lagi Suntuk, boring, stress, banyak masalah.
Ada satu tempat  untuk melepaskan penat yang menggelayut di pikiran. Datang saja ke kawasan hijau Hutan Kota Srengseng. Ya,  hutan kota yang berlokasi di Jl. H. Kelik, kelurahan Srengseng,  kecematan Kembangan, Jakarta Barat ini kerap menjadi salah satu tempat tujuan para kaula muda yang ingin ajang pendekatan (alias pdkt), memancing, atau yang ingin sekedar menikmati hijaunya air danau dan pepohonan. Sok atuh silahkan dateng ke Srengseng. 

Hutan Kota Ini sudah ada sejak tahun 1979, yang diresmikan oleh Guberner DKI Jakarta. Tempat ini dikelola oleh Dinas Pertanian DKI Jakarta, memasuki tempat ini sangat berasa keasriannya, karena di depan alun-alun banyak terpajang hasil pertanian berupa tanaman hias, yang amat elok rupa dan  warnanya. 

Sebagai warga meruya, letak srengseng dan Meruya sangatlah berdekatan, kedua wilayah kelurahan ini merupakan wilayah tetangga, namun baru kali ini gue ada kesempatan untuk menyambangi danau Srengseng. Sumpah gue lagi suntuk banget, pusing sama rutinias kerja dan lagi muak dengan sistem yang ada. Gue starter motor beat kesayangan  dan langsung ngacir deh. 

Untuk masuk ke Danau srengseng, pengunjung di kenai biaya sebesar Rp. 2000, plus parkir motor Rp. 1000. Sebuah harga yang amat sangat murah bagi pengunjung yang berkantong cekak alias bokek. Tapi lain halnya jika kenal dengan pengelola, dijamin nggak dikenakan biaya, bisa selonong boy. 

Jarang banget loh ada hutan di tengah Kota, bisa dihitung pakai jari deh kayaknya Hutan yang ada di Jakarta, Jangankan Hutan, taman Kota aja kayaknya sedikit deh. Semua lahan sudah terpakai untuk komersialisasi atau pemukiman orang-orang kaya.








TAHU GIMAL GEMBEL

Setahun lalu tepatnya diakhir penghujun tahun 2010. Gue pergi ke semarang menemui sang sohib Si Eka Pajarwati Bedebret. Gila sumpah ya, gue adalah bukan orang suku Jawa, gue betawi totok yang mandek di tanah betawi. Gue mah kagak banyak tahu tempat, nah pas ada kesempatan ke Semarang, girangnya bukan main.

'Segala persiapan pun dilakukan guna menyambut hari petualangan bedebrett. pesen tiket bus Rosalia Indah, Gile mahal bener nih bus, Untuk yang berdompet tipis sebaiknya menggunakan jasa angkutan Kereta Api, lebih murah dan lebih cepat. Tapi ya nggak senyaman bus Rosalia, busnya tuh enak, nyaman deh pokoknya. Di bus gue sebangku dengan seorang Ibu. Gue nggak tanya namanya siapa, tapi percakapan mengalir begitu saja, cerita pengalaman kerja dan pengalaman hidup tentunya. Setu sih. untungnya gue sebangku yang masih satu kaum sama gue. Males aja gitu kalo sebangku sama kaum adam, ya kalo cakep dan muda sih is ok ya, tapi kalo pria-pria yang agak menyeramkan ngeri juga ya.

Loh terus tentang tahu gimbalnya mana, bentar ya sebelum makan tahu gimbal, gue kasih tahu tempat ibadah umat konghucu terbesar di semarang, yaitu klenteng Sam Po kong. Kleneteng yang dibangun oleh laksamana Ceng Ho dalam pendaratannya di Semarang. 

PO 2P


Tak terasa sudah 3 bulan berlalu, waktu begitu cepat meghapus  jejak kepahitan dan berlikunya jalan yang harus ditempuh. Perjalanan panjang ini menuju sebuah  bukit besar nan  tinggi. Tuhan memberikan setitik anai di Petamburan dan  Petukangan. Pemberian gelar PO (project Officer) membuat gue harus meninggalkan aktivitas keguruan gue. Selama ini gue berhadapan langsung dengan anak-anak, beragam pola tingkah laku dapat kita lihat dan rassakan. Wajar jika searang gue nggak mendapatkan emosi pada anak-anak baru.
Sekarang gue berhadapan dengan orang yang agak sedikit besar, sedikit dewasa, yang punya perasaan, kepandaian  dan keterampilan. Sekarang gue menjadi pemimpin, yang harus mengetahui segala line persoalan yang ada di rumah belajar. Memang berat jadi pemimpin itu, mulai dari tanggung jawab, ya pokoknya banyaklah beban moral yang harus ditanggung oleh sang pemimpin.

Tanpa gue sadari, kerelaan gue meninggalkan ativitas mengajar, mengantarkan gue pada sebuah dunia baru, yaitu dunia Marketing (pemasaran), ya gue harus memasarkan “produk” rumah belajar ke penjuru daerah, menawarkan pada ibu-ibu pengajian, arisan, mulai dari tingkat RT, RW sampe kelurahan gue jabanin demi mencerdaskan anak bangsa. Ya gue pikir nggak ada bedanya lah gue  sama sales yg ada, Cuma gue lebih sopan membawa produknya bertema sosial, bukan produk konsumsi yang profit.

Perjalanan bermula di titik Duri kepa  untuk absen finger, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Petamburan, melewati padatnya jalan raya, gue harus berlomba dengan pengendara motor yang lain, emosi kadang kian membuncah  tatkala ada senggolan atau serempetan, (bukan senggolanya ayu Ting-ting loh ya, yang bisa bikin jempol kita goyang ke kiri dan ke kanan) Petamburan dengan segala keunikannya, tempatnya, orang-orangnya dan juga anak-anaknya, tapi gue suka di Petamburan, walaupun  disana kita memiliki beraneka ragam masalah, tapi itu adalah rumah kita sendiri yang kekurangannya menjadi sebuah anugerah.
Menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas, Allah maha mengetahui  apa yang telah diperbuat hambanya. 

Mengenal Siswa Lewat Tulisan

Curhatnya Anak-anak kenapa tidak mengerjakan PR,

Gue mulai membiasakan siswa itu menulis untuk menceritakan apa yang mereka rasakan.

Ada satu siswa yang menurut gue dia begitu luwes mengungkapkan isi hatinya. Namanya Rifan Nafi, dari kelas PC 1 –B ( setara SMA kelas 1), dia tergolong siswa baru di kelasnya.

Gue ingin tahu kenapa anak-anak tidak mengerjakan tugas. Mereka gue perintahkan menulis alasan tidak mengerjakan PR di kertas folio bergaris sebanyak 1 halaman. Mau Tahu ceritanya seperti apa, simak baik-baik ya ceritanya.

Alasan saya tidak mengerjakan tugas sejarah adalah saya tidak tahu dimana tempat tinggal orang yang harus diwawancarai, dan hampir tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas tersebut. Setelah pulang sekolah saya sejenak tidur siang, setelah bangun saya membantu bapak saya menyiapkan dan merapihkan gerobak untuk berdagang. Saya membantu menaruh apa yang dibutuhkan untuk bubur ayam. Dan kayaknya disekitar saya tidak ada orang yang mengetahui sejarah tempat tinggal yang saya tempati skarang ini.

Pikiran saya juga tidak ditujukan pada tugass itu saja, ada banyak lagi tugas yang harus saya kerjakan lagi, mulai dari PR Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dll. Saya juga disibukkan dengan pelajaran TIK. Saya belum terlalu bisa mengoperasikan komputer dengan baik dan benar saya terlalu banyak pikiran, jadi maaf kalau saya tidak mengerjakan tugass sejarah yang harus dikumpulkan dengan cara mengirim e-mail. Saya juga masih baru, semenjak saya meninggalkan kampung halaman saya, berat rasanaya meninggalkan kampung halaman saya, karena harus meninggalkan keluarga, adik, ibu dan sohib. Sebenarnya saya ingin bersekolah di kampung saja, yang masih satu kabupaten. Namun apalah daya, mungkin ini takdir tuhan dan saya harus jalani semua ini dengan ikhlas. Dan Alhamdulilah disini saya mendapatkan sekolah yang cukup bagus. Fasilitasnya lumayan lengkap dan Alhamdulilah biayanya tidak terlalu mahal.

Selain banyak pikiran saya juga harus mencuci pakaian bapak dan kakak ipar saya. Jadi waktu yang seharusnya untuk membaca buku, saya gunakan untuk mencuci baju. Jujur saja sebelum saya pindah ke sini saya hanya mencuci pakaian saya sendiri, sekarang saya hars mencuci pakaian dengan jumlah yang lumayan banyak.

Akhir kata saya kelupaaan, maaf ya bu

Ya itu tadi curhatannya, meskipun susunan bahasanya belum tertata rapih dan baku, tapi dis sudah mengungkapkannya melalui sebuah tulisan.

Walaupun dari penuturannya dia banyak pikiran atau masalah, tapi yang namanya tugas tetap menjadi tanggung jawab yang harus dikerjakan

Buku Menjadi Guru Untuk Muridku

Menjadi guru yang terdidik tuh nggak gampang. Banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan idealnya. ketika semangat lagi kendor, molor, kita perlu merecharge semangat dan energi untuk bangkit lagi. Berusaha untuk selalu meng up date informasi kayaknya wajib tuh untuk kita sebagai guru. Bagaimana muridnya mau pinter jika gurunya tidak memiliki wawasan yang luas.

Gue baru kelar membaca bukunya St. Kartono, penulis adalah guru bahasa Indonesia SMA klose de Brito dan juga Dosen di Sanata Dharma Yogyakarta. Bukunya berisi refleksi dari pengalamannya selama puluhan tahun mengajar. Penulis juga memaparkan kondisi guru sekarang dengan problematika zamannya. Menurut gue sih bukunya bagus banget, dan itu bisa juga dijadikan bacaan wajib untuk guru-guru, dikala hati gundah dan nelangso.

Selain bacaan dari buku, gue juga sedang berusaha dengan teman gue Eka Pajarwati untuk mengumpulkan film yang bertema tentang pendidikan dan sekolah. Entah dari ranah Hollywood, Eropa, Jepang bahkan India sekalipun. Semuanya sedang dalam proses pencarian dan pengelompokkan. Semoga dengan koleksi yang kita punya nanti bisa bermanfaat.

Thanks banget untuk Bapak Firmansyah dari HeLP division YCAB. Sudah berbagi pengalamannya tentang dunia pendidikan, meskipun saya tahu beliau bukanlah guru yang mengajar. Apa yang beliau sharing ke kita, banyak banget membantu dan membuka wawasan untuk lebih baik lagi dan semakin semangat untuk mengajar.

KETIKA SEMANGAT PEDAGOGIK MEMUDAR


KETIKA SEMANGAT GURU MULAI MEMUDAR

Gue yakin ketika masih menjadi mahasiswa keguruan, sang kepala sekolah memiliki jiwa idealisme dan semangat yang membumbung tinggi untuk membaktikan diri mengajar.

Apa sih bedanya sekolah SD reguler yang dapet BOS dan sekolah yang SSN. Di negara ini banyak hal yang dipenuhi dengan dilema dan membuat kita menyerah terhadap kondisi masyarakat.

Ketika gue datang berkunjung ke sekolah SD negeri tipe komplek, awalnya sih ingin sosialisasi kita punya rumah belajar. Kita di sambut dengan tim guru Sd tersebut, Ibu guru menyambut baik kedatangan kami, walaubagaimanapun kepala suku harus tahu keberadaan tamu yang berkunjung kesekolahnya.

Berkenalanlah gue dengan sang kepala sekolah, sebut saja namanya pak B, beliau menayakan apa tujuan kita dan apa keperluannya. Gue ingin menjelaskan  dari A-Z tentang kegiatan kita. Kayaknya gue Cuma dikasih waktu Cuma 5 menit, itu pun gue rasa kurang bangetttt, karena ada banyak hal yang ingin gue sampaikan. Nampaknya kepala sekolah menanggapi program kita  dengan perasaan galau dan pesimis.

Galau bukan karena masalah priibadinya, tetapi dia curhat tentang zona nyamannya dia memimpin sekolah yang tunggal, sehingga sekolahnya maju. Dan sekarang dia merasa galau karena ditempatkan disekolah reguler yang fassilitassnya amat sangat terbatas, keuangannya juga terbatas, mentalitas anak-anaknya juga rendah, dukungan orangtua yang minim. Kegalauannya dia ditumpahkan kepada kita, ya udah kita pasang kuping dan nunggingin senyum yang lebar. Sampe sampe kita nggak dikassih space untuk  menyela atau membeerikan pendapat. Cuma ya bete juga gitu. Tapi ya kita berpikir positif aja, bahwa si bapak sedang mentransfer ilmunya yang sudah belasan taun memimpin SD.

Endingnya sih Cuma bilang si bapak Cuma bilang “oh ya udah nanti saya sampaikan kepada anak didik saya. “ kayaknya sih ada sekitar 45 menit kita ngedengerin curhatannya si bapak.

Di tengah perjalanan pulang, gue mencoba berpikir, mestinya si Bapak kepala sekolah bangga mendapatkan tantangan dengen penempatannya di sekolah reguler yang kebanyakan anaknya dari orang tua yang menengah bawah dan minimnya fasilitas. Bukankah itu sebuah tantangan untuk menjawab dan keluar dari keterbatasan, berjuang sampai titik darah penghabisan. Memang berat Pak,  pekerjaan yang sifatnya menjadi pelayanan masyarakat. Bahkan kata Tan Malaka bilang apabila kita ingin memerdekakan suatu bangsa, kita harus siap kehilangan kemerdekaan akan diri sendiri. Karena tenaga dan semangat yang kita miliki tercurah untuk kepentingan masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang beraneka ragam karakter, watak  dan kepentingannya.

Gue berharap sang bapak tidak kehilangan apa yang dimiliki guru sesungguhnya yaitu jiwa pedagogiknya. Kita mesti bangga, ibarat bengkel mobil, kerusakan menjadikan kita bekerja memperbaiki kerusakan. Keluar dari bengkel   menjadi kembali sediakala, bahkan menjadi lebih maksimum performa tuh mobil. Dengan input yang alakadarnya, mestinya kita bangga jika outputnya menjadi baikkadarnya, bukan output yang spektakuler atau setinggi langit jadi dokter.


TANAH BETAWI MERUYA



Ok, kita mulai menulisnya,

Is all About Meruya.

Sejak kecil gue tinggal di wilayah Meruya, yang merupakan perbatasan antara Propinsi Jakarta dan propinsi Banten, lebih tepatnya berbatasan langsung dengan Tangerang. Karena wilayahnya dipinggiran Kota, masih banyak tanah yang dan lingkungan yang masih assri, tidak sepadat di wilayah pusat kota yang padat dan kumuh.

Sebagai orang meruya gue sangat bangga dengan kondisi lingkungan yang masih banyak pohon, air tanahnya jernih, rumah penduduk tertata rapih. Itulah enaknya tinggal di Meruya. Nama Jalan dan wilayah kampungnya juga lucu-lucu, ada jalur 20, lapangan kiamat, jalur 15, penggilingan, kembang kerep, kubur batu, H. Lebar, cayon, ya masih banyak sederet nama-nama haji yag dijadikan jalan. Nama-nama tersebut berasalah dari tokoh yang sudah meninggal dan pernah mengalami masa kejayaan, entah sebagai Mandor atau tokoh agama.

Kenapa gue bangga sama meruya, selain yang gue sebutkan di atas, Tinggal di pusat kota jakarta itu sangat tidak menyenangkan. Padat, kumuh, sumpek, hampa udara. Pengalaman tersebut gue bandingkan karena gue lumayan sering turun ke masyarakat. Apalagi pemukiman padat penduduk, beuh nggak banget deh, depan rumah ada yang dijadiin tempat nyuci baju, yang airnya mengalir becek kedepan rumah tetangga. Belum lagi sampah yang menumpuk di pintu air. Pokoknya sangat jauh dikatakan layak, terutama ditinjau dari segi sanitasi.

Ya, kalo kita orang kaya sih enak ada pilihan Apartemen atau Hotel berbintang. Cuma siapa yang bisa mengakses ke situ, perbandingannya mungkin 20: 80 dari jumlah warga Jakarta.

Nah disini gue bukan mengupas kesemrautan kota Jakarta yang emang sudah dari sononya susah banget untuk di bentuk kembali kejayaaan Belandanya.

Gue akan mengajak ke wilayah pemukiman Betawi tepatnya kampung cayon. Kemarin gue baru aja keliling naik sepeda dan disana ternyata ada pemukiman yang belum pernah gue datengin, tapi denger namanya sih sering. Sumpah tuh kampung rapih, dengan tipekal rumah betawi nya. Asri karena masih banyak yang usahanya dari tanaman hias. Macam-macam tanaman hiasa dapat ditemukan.

Berbicara mengenai tanaman hias, sekarang sudah mulai sedikit demi sedikit tergusur dari orang yang punya lahan, karena yang punya tanah ingin membangunnya dengan rumah. Orang betawi tahu sendiri kan tanahnya abis di jual, sehingga tidak punya lahan, yang ada lahan garapan dari tanah orang lain, kemampuannya adalah bertani. Orang dulu bercocok tanam menanam padi, sayuran, sekarang karena sawah sudah tidak ada, beralih kepada tanama hias atau sayur mayur seperti Kankung, bayem. Gue menceritakan ini karena keluarga gue mengalami hal seperti itu, tidak punya tanah untuk usaha pertanian, dan digusur karena yang punya tanah ingin memakai kembali hak mereka. Karena kehilangan tanah garapan, maka sumber penghasilan pun tertututp, jadilah pengangguran bertambah. Ini yang gue amati dari kampung meruya, pada kemana ya orang –orang yang tanah garapannya sudah tidak ada lagi. Pada jadi apa ya? Darimana mereka mengantungkan hidup.

Itulah Betawi dengan kejayaan lalunya, yang kini mulai pudar identitasnya, baik kultur maupun tanahnya. Banyak orang Betawi pergi haji, sekarang yang punya lahan, jika tidak mau capek ya buka kontrakan. Rumah kecil yang disewakan kepada kaum pendatang untuk menjadi tinggal semi permanen dari tempat tinggal mereka kerja. Mungkin para orang tua dulu tidak pernah terpikir tanahnya sekarang sudah tersingkir dan perkembangan penduduk semakin banyak.

TRIP TO MALANG-BROMO

Last year in 2019, I was going to  Malang and Bromo with my BFF @pajarwati.  we visit some places in Malang like legendary food untill old ...