Antara Negara, Tanah Negara dan Warga Negara

Mana yang lebih dahulu Negara, tanah negara dan warga negara. 
Akhir-akhir ini banyak sekali pihak yang mengatasnamakan tanah negara, terus warganegara yang tinggal diatas tanah negara mau dikemanakan jika tempat mereka tinggal digusur dan diperuntukkan dengan tujuan lain. Bukankah syarat terbentuknya negara ada tiga unsur yakni ; wilayah, penduduk, dan pengakuan dari negara lain. 

Lantas untuk apa bernegara jika untuk menempati tanah saja tidak diperbolehkan.
terkadang saya berpikir bahwa siapa sesungguhnya sang pemilik tanah, bukankah Tuhan sang pencipta, manusia hanya numpang hidup saja. Manusialah yang membuat aturan-aturan formal sehingga ada penamaan istilah tanah negara, tanah publik, dll. 

lantas ketika kita mati apakah kita akan membawa tanah negara dan  kita dikubur di dalam tanah, karena kita memang berasal dari tanah. Untuk manusia yang masih hidup janganlah kalian serakah akan tanah yang sesungguhnya bukan milik kalian. 

Cukup sekian  renungan pagi ini, karena terlalu banyak orang yang berkoar-koar tentang tanah negara, jadi saya beri judul yang diatas. Selamat beraktifitas. 

Intoleransi terhadap Toleransi

Dunia saat ini tidak lagi dihapkan pada kekuatan Komunis dan Kapitalis, keduanya sudah terbukti gagal dalam menciptakan tatan masyarakat yang ideal. Begitupun para pejuang yang mengatasnamakan HAM dan demokrasi menurut versi meraka yang dipaksaka kedalam kehidupan kita. Tanpa adanya istilah HAM dan demokrasi, Islam sudah mencakup nilai-nilai itu dalam ajarannya. Akhir-akhir ini banyak yang berbicara mewakili Tuhannya dengan mengatakan :


 Tuhanmu tidak perlu disembah karena dia tidak butuh penyembahan 
 Tuhan mu tidak perlu di bela karena dia yang memiliki kebenaran
 Jangan merasa diri paling benar karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan
 Kasihan sekali Tuhanmu yang maha mulia tapi disuruh2 masalah kelamin 
Jangan mudah menghukumi karena hanya tuhan yang tahu kebenarannya



Kita dipaksa untuk memahami dan menerima argumentasi mereka, tapi mereka tidak mau juga memahami orang yang berpegang teguh pada ajaran agama, ini namanya sudah intoleran, tidak ada toleransi apalagi kebebesan mengemukakan pendapat, nilai dianggapnya relatif. Berbahaya sekali virus ideologi ini. Semoga kita masih punya akal sehat dan hidup dalam ridho dan lindungan Allah, ketika memegang keyakinan seperti mengengam bara api, inikah tanda-tanda akhir zaman ? 


-  catatan di pagi hari dengan segelas orange juice -


TRIP TO MALANG-BROMO

Last year in 2019, I was going to  Malang and Bromo with my BFF @pajarwati.  we visit some places in Malang like legendary food untill old ...